Kamis, 05 Januari 2012

Bakteri Tertua Ditemukan di Australia


Para ilmuwan dari University of Western Australia dan Oxford University telah menemukan fosil mikro tertua bumi di Australia. Penemuan mikroskopis mereka menjadi bukti yang meyakinkan bahwa sel-sel dan bakteri mampu berkembang dalam dunia bebas oksigen lebih dari 3,4 miliar tahun lalu.

Kantor berita Reuters dan AFP, Senin (22/8/2011), melaporkan, tim yang dipimpin oleh David Wacey dari University of Western Australia melaporkan temuan dalam jurnal Nature Geoscience.

Temuan menunjukkan kehidupan awal itu berbasis sulfur atau belerang. Bakteri tersebut hidup dari metabolisme belerang dan bukan mengambil oksigen untuk keperluan energinya.

Temuan ini juga mendukung gagasan bahwa bentuk-bentuk kehidupan yang sama bisa ada di lain planet di mana tingkat oksigen yang rendah atau bahkan tidak ada. Sampel bakteri tersebut berasal dari wilayah Pilbara yang terpencil Australia Barat, dalam situs yang disebut kolam Strelley. Bakteri tersebut terawetkan di antara butir pasir kuarsa.

Pilbara telah dikenal memiliki beberapa formasi batuan tertua. "Akhirnya kita memiliki bukti yang solid baik untuk kehidupan lebih dari 3,4 miliar tahun lalu. Hal itu menegaskan ada bakteri hidup tanpa oksigen," kata Martin Brasier, seorang profesor di Oxford University, dalam sebuah siaran pers. Bakteri yang hidup dari belerang itu masih ada sekarang.

Sumber : AFP/ Reuters
Categories:
Comments
Lebih dari 10 biota air tawar langka ditemukan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di kawasan Pegunungan Mekongga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Berdasarkan temuan ini, peneliti LIPI menganjurkan agar kawasan Pegunungan Mekongga harus dilindungi.

Studi peneliti LIPI, Reny Kurnia Hadiaty, sementara ini mendata ada 13 biota langka di kawasan sungai Pegunungan Mekongga. Daisy Wowor, peneliti LIPI, mengatakan, sebagian besar biota itu termasuk krustasea. "Untuk dua jenis biota air tawar, udang dan kepiting, kami belum melihat atau menemukan data yang sama dengannya di wilayah ekosistem lain, di luar kawasan Pegunungan Mekongga, sehingga kami masih perlu menelitinya lebih lanjut," tutur Daisy.

Namun, menurut dia, mereka harus membandingkan dengan jenis spesies lain yang pernah ditemukan di perairan air tawar Pulau Sulawesi meski dugaan sementara terhadap hasil penelitian adalah biota-biota ini merupakan temuan baru.

Reny pun menambahkan, "Kawasan Pegunungan Mekongga ini harus dilindungi karena menyimpan potensi yang sangat berarti bagi kehidupan manusia dan kepentingan ilmu pengetahuan. Ada indikasi perkembangan populasi biota air tawar di kawasan terancam karena ulah masyarakat mengeksploitasi sumber daya alam ini dengan cara tidak ramah lingkungan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar